Salah satu alasan terbesarku untuk menikah adalah, aku ingin hidup bersama dengan orang ingin hidup bersamaku. Tidak lagi bergantung pada keluarga yang sudah tidak lengkap tanpa bapak dan ibu. Hidup bersama suadara terasa seperti menumpang, ada hal-hal yang selalu tidak terlihat benar. Walaupun mereka menyayangiku, tapi tetap tidak ada yang menandingi kasih sayang orangtuaku, walaupun kenyataannya merekapun orang lain. Tapi lagi-lagi aku sadar, semua milik Allah, pun juga aku dan suamiku kelak, maka kapanpun Allah menginginkan semua miliknya, maka kita bisa apa?
Setiap kehilangan mengajarkanku bahwa, tidak ada sesuatu yang benar-benar menjadi milik kita. Semua hanya titipan. Tapi, mana yang lebih menenangkan, hidup dalam ketidaknyamanan, atau bersusah senang bersama orang yang benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama kita?
Mungkin tidak sesederhana itu. Dalam kehidupan berumah tangga mungkin akan ada beragam problematika. Termasuk perasaan-perasaan takut kehilangan. Sekali lagi, segala sesuatu yang kelihatannya milik kita sebenarnya bukan milik kita. Meskipun demikian, saat amanah itu masih dipundak kita, maka tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik untuk mereka.
Maka, jujur saja, salah satu doa yang aku perjuangkan di Ramadhan ini selain kebaikan untukku dan keluargaku, sudah pasti untuk kehidupanku sendiri. Ya, aku ingin segera dipertemukan dengan laki-laki yang bisa membahagiakanku, Menuntunku menuju jalan ke surga.
Sudah tidak lagi ingin kusebutkan siapa dengan kriteria muluk-muluk yang sebenarnya beroriontasi pada keduniawian semata, karena aku yakin Allah tahu apa yang terbaik bagiku.
Hari itu, matahari berada tepat di atas kepala, pertanda hari mulai siang. Tak seperti biasanya aku kembali ke perantauan sesiang ini. Wajar saja, kali ini aku tak kembali ke Kota M, melainkan ke Kota S karena kini aku harus praktik industri di sana. Entah kenapa pulang kampung kali ini membuatku merasa betah di rumah. Walaupun kini aku mulai menyadari statusku di rumah itu, namun tetap saja aku merasa nyaman. Aku menikmati hari-hari yang cukup singkat bersama mereka, keluarga angkataku. Tak ada yang berbeda, bapak masih sakit, ibu juga terlihat kurang sehat, Mbak Tin masih suka memarahi anaknya. Dan Si Naughty Arya juga masih menyebalkan. Namun buka sisi negatif itu yang keperhatikan kali ini. Aku lebih fokus pada perhatian mereka. Entahlah, meskipun kadang terbesit pikiran-pikiran negatif tentang niat buruk mereka, namun aku tetap berusa meyakinkan diriku bahwa mereka benar-benar menyayangiku dengan sepenuh hati. Kuakui setiap kali aku hendak kembali ke perantauan, aku benar-...
Komentar
Posting Komentar