Langsung ke konten utama

Catatan Facebookku

catatanku :)

Draft 4#                                                                                                   Ada banyak hal di dunia ini yang tak pernah kau rencanakan sebelumnya dan tiba2 saja kau berada pada kondisi itu. Termasuk bagaiman tuhan mempertemukan kau dan orang2 disekitarmu. Apa kau pernah berencana untuk dilahirkan ? apa kau bisa memilih dilahirkan di lingkungan yang seperti apa? Inilah yang disebut takdir. Sesuatu yang telah direncanakan olehNya dengan cara yang amat baik. Hanya saja tak semua orang akan berfikir demikian. Seseorang dengan tingkat rasa syukur tinggi akan menerimanya dengan respon yang baik pula. Sehingga secara tak sadar ia telah berusaha mewujudkan takdirnya yang baik itu menjadi benar2 nyata. Adapun orang2 yang miskin akan rasa syukur akan berfikir sebaliknya. Dan tentu saja itu akan membawa takdirnya yang semuala baik perlahan memburuk. Lantas apakah tuhan tidak adil? Bukankah kita sama2 duciptakan dengan takdir yang baik? Pada intinya baik atau buruknya kualitas hidup ditentukan dari seberapa bersyukur kita terhadap takdir yang ada. Dan ingatlah bahwa kebahagiaan tak dapat diukur dengan materi semata.

Draft 3#
hening malam membawaku pd sebuah kdamaian, hening malam mengajarkanku tentang arti ktenangan, hening malam menunjukkan pd driku betapa malam kian mencekam tanpa seberkas sinar rembulan. yeah, malam tak ubahnya seperti hidup ini yg tiap detiknya mengajarkan arti nilai2 kehidupan, mebawa kita pd dua pilihan, kebaikan atau keburukan. menyadarkan kita betapa hidup tanpa teman adalah sebuah kegagalan,
#kesepian

Draft 2#
Bercerita tentang hidup memang tiada akhir. Satu masalah selesai, muncul masalah selanjutnya. Adakah hidup ini tanpa diliputi masalah?? Tentu tidaklah mungkin. Kehidupan ini pun ada karena sebuah masalah. MAka mustahil jika hidup ini berjalan mulus tanpa ada satu pun aral. Ya Rabb, adakah hidupku akan selamanya seperti ini? selalu diliputi berbagaimasalah dan sandiwara. Tak pernah bisa tertawa lepas tulus ikhlas dari dalam jiwa.Andaikan hidup ini sebagai panggung drama, aku hanyalah tokoh figuran yang tak punyai peran penting. Tapi kenapa masalah lebih sering menimpahku ketimbang tokoh utama dalam drama ini??

Draft 1#
Hiidup ini begitu sulit bagi mereka yang beranggapan sulit. Namun hidup juga bisa menjadi mudah ketika kita mampu menghadapinya dengan senyuman. Meski kadang dibalik senyum itu tersimpan duka dan tangis. Dan mungkin itu lebih baik dari pada kita harus mengobral kesedihan kita pada orang lain. Memang tak selamanya menjadi orang yang tertutup itu baik. Karena terkadang, kita memang harus membagi masalah kita kepada orang lain yang dapat kita percaya. Tentunua untuk menemukan solusi, dan bukan mencari simpati. Tapi sayangnya, sulit sekali mencari orang yang benar2 bisa dipercaya itu. Bahakan lebih sulit dari mencari seorang sahabat. Dalam hal ini, memang pada umumnya orang yang bisa kita ajak sharing adalah sahabat, tapi tidak selalu sahabat dapat membantu kita menemukan solusi yang terbaik untuk kita. Setiap orang pasti mempunyai masalah yang beragam. Dan keragaman tersebut, membuat tiap2 orang pun berbeda dalam menanggapinya. Kadang kita merasa masalah yang kita hadapi sangatlah sulit, namun tak jarang orang lain menggap itu hanyalah masalah yang sepeleh. Inilah kerelatifan manusia dalam menilai nsesuatu. Itulah alasan mengapa kadang kita harus tertutup pada orang lain. Jadi pada intinya, ada saat dimana kita harus terbuka, dan ada saatnya kita harus menutup rapat diri kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat Untuk Kita Semua, Singlelillah :)

Tetaplah istiqomah menjadi singlelillah , ini bukan karena tidak laku, tapi memang tidak mau. Contoh di depan mata memang terlihat sempurna, tetap bersama dan terlihat sholiha (?) entahlah, jangan menghakimi siapapun. Dari latar belakang apapun yang kau lihat itu adalah manusia, Ia tidak sempurna. Bukankah kamu sudah tahu kemana arah hubungan-hubungan tidak sah itu. Bahkan jika nanti berakhir di pelamihan, sudah ada dosa yang ditabung. Menikah setelah berpacaran bertahun-tahun bukan penebusnya. Wallahu’alam, dosa manusia hanya Allah yang tahu. Jangan merasa suci karena tidak pernah pacaran atau karena sudah bertobat atas aktivitas itu. Teruslah perbaiki diri, memang jika berpikir rasional rasanya tidak mungkin akan memperoleh pasangan seperti halnya mereka yang mengawali pernikahan dari jalan pacaran. Tapi siapa pemilik bumi dan isinya? Apa kamu masih meragukan kuasa-Nya? Bersabarlah. Menjadi sabar tidak ada ruginya.

Bisakah Kita Segera Bertemu?

Salah satu alasan terbesarku untuk menikah adalah, aku ingin hidup bersama dengan orang ingin hidup bersamaku. Tidak lagi bergantung pada keluarga yang sudah tidak lengkap tanpa bapak dan ibu. Hidup bersama suadara terasa seperti menumpang, ada hal-hal yang selalu tidak terlihat benar. Walaupun mereka menyayangiku, tapi tetap tidak ada yang menandingi kasih sayang orangtuaku, walaupun kenyataannya merekapun orang lain. Tapi lagi-lagi aku sadar, semua milik Allah, pun juga aku dan suamiku kelak, maka kapanpun Allah menginginkan semua miliknya, maka kita bisa apa? Setiap kehilangan mengajarkanku bahwa, tidak ada sesuatu yang benar-benar menjadi milik kita. Semua hanya titipan. Tapi, mana yang lebih menenangkan, hidup dalam ketidaknyamanan, atau bersusah senang bersama orang yang benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama kita? Mungkin tidak sesederhana itu. Dalam kehidupan berumah tangga mungkin akan ada beragam problematika. Termasuk perasaan-perasaan takut kehilangan. Sekal...

Tidak Ada yang Kebetulan!

Tanpa ingin menjatuhkan siapapun aku menulis cerita ini.  Tidak pernah aku merasa hatiku sehancur ini, pernah, tetapi dalam konteks yang berbeda. Kali ini sebenarnya aku sedikit malu jika harus menceritakannya, tetapi seperti tujuan awal aku membuat blog ini adalah untuk berbagi kisah yang harapannya mampu menjadi pembelajaran bagi para pembaca. Baiklah aku mulai.  Dipuncak kesedihanku atas kepergian kedua malaikatku aku merasa hidupku semakin tidak terarah, tidak memiliki tujuan lain selain bertahan hidup di kota pertama aku meninggalkan kampung halamanku, Surabaya. Hari-hariku berusaha kusibukkan dengan membawa map coklat dan pergi kemanapun aku melihat lowongan pekerjaan tersedia. Tujuannya tidak lain ingin melupakan bahwa orang yang harusnya paling membuatku bersemangat berjuang telah pergi dan membiarkan aku menjalni hidup ini seorang diri. Meskipun hampir setiap malam sebelum mataku terpejam aku tidak pernah lupa mengalirkan butiran bening di sudut gelap mataku....